Rabu, 27 September 2017

Niat Baik

Kadang memang niat baik tidak selalu dapat diterima dan dinilai dengan baik. Adakalanya niat baik tersebut justru dianggap sebagai sebuah hal yang menyakitkan.

Berada disituasi seperti ini memang sulit. Dari pada sibuk memikirkan diterima atau tidaknya niat baik tersebut, lebih baik saya berinstrospeksi diri. Mungkin cara menyampaikan niat itu salah, atau ada kesan memaksakan. Walaupun saya merasa tidak ada paksaan, tapi mungkin pemikiran orang berbeda tentang bagaimana cara saya menyampaikan sebuah niat baik.

Saya sebagai manusia biasa sangat sering melakukan kesalahan dalam menyampaikan sebuah niat dan tujuan yang sebenarnya baik. Saya harus banyak belajar agar dapat menyampaikan niat baik ini agar juga dapat diterima dengan baik.

Jika penyampaian niat baik ini tetap tidak diterima, maka saya harus ikhlas menyerahkan semuanya kepada Tuhan, bahkan dalam kondisi yang lebih buruk ketika kita dianggap jahat karena terlalu memaksakan niat baik tersebut.

Saya salah ketika terlalu berharap agar niat baik saya diterima, padahal semuanya harus dikembalikan lagi kepada Tuhan. Hanya kepada Dialah kita berharap. Yang penting sudah ada niat dan usaha untuk menyampaikan , diterima atau tidak , atau justru jadi bahan berburuk sangka, ya serahkan saja semua kepada Tuhan, toh cuman dia yang bisa mengetahui dan menilai isi hati. Jika saya yang salah maka saya akan merasakan konsekuensinya

Tugas saya hanya menyampaikan, selanjutnya menjadi kewenangan Tuhan.

Mohon maaf atas segala kesalahan.

Rizal Bagus Kurniawan

Rabu, 27 Juli 2016

Maaf

Memaafkan bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Benci menyelimuti hati ketika teringat perbuatan menyakitkan yang pernah dilakukan. Sepertinya mustahil untuk untuk benar-benar memaafkan dan bisa memulai sesuatu yang baru tanpa adanya beban dan bayang-bayang masa lalu. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Ketika seseorang meminta maaf, mungkin secara lisan saya bisa memaafkan. Tapi didalam hati masih tersimpan beban. Mungkin mulut masih sanggup menyapa, wajah masih bisa memberikan senyum, namun hati masih belum ikhlas untuk benar-benar memaafkan.

Saya teringat akan doa yang selalu saya panjatkan setiap harinya kepada Tuhan, yaitu memohon ampun dan maaf atas segala dosa dan kesalahan yang telah saya lakukan. Awalnya saya berfikir bahwa Tuhan pasti mengampuni dan memaafkan saya.

Namun ketika saya teringat bahwa diri saya sendiri saja sulit untuk memafkan satu kesalahan orang lain, apakah Tuhan akan memaafkan kesalahan saya yang begitu banyak?

Tuhan maha pengasih dan maha penyanyang, Dia akan mengampuni seberapapun besarnya dan seberapapun banyaknya dosa kita, selama kita benar-benar bertobat.

Sifat maha pengasih dan penyanyang Tuhan menginspirasi saya untuk bisa ikhlas memaafkan kesalahan orang lain. Kesalahan, kekhilafan dan lupa adalah hal wajar yang biasa dilakukan oleh manusia. Selama ada niat untuk meminta maaf, mengubah diri dan tidak mengulangi kesalahan maka akan sangat mulia jika kita ikhlas untuk memaafkan.

@rizalbkur


Rabu, 04 Mei 2016

STOP menceritakan keburukan orang lain!

Ketika melihat tingkah laku orang lain, biasanya kita akan menilai apakah tingkah lakunya itu baik atau buruk.  Jika tingkah lakunya baik, maka kita akan memujinya dan menceritakan kebaikannya kepada orang lain. Ini adalah hal yang positif, namun  jika tingkah lakunya buruk, kita akan mencelanya dan membicarakan keburukannya kepada orang lain.

Membicarakan keburukan orang lain, bukan hal yang baik, apalagi menceritakan keburukan tersebut dengan tujuan menghasut agar orang lain menjadi benci. Tidak baik menyebar kebencian.

Lebih baik fokus untuk berkaca dan introspeksi diri untuk melihat keburukan kita dan berusaha memperbaikinya.

Note for me : Stop Membicarakan keburukan orang lain !

@rizalbkur

Minggu, 06 Maret 2016

Menolong orang jangan terus di ingat!, di tolong orang harus terus di ingat!

Kadang saya teringat dengan pertolongan yang pernah saya beri kepada orang lain, ingatan itu semakin kuat ketika saya dikecewakan secara sengaja/tidak sengaja oleh orang yang pernah saya tolong. Kadang dalam hati terbesit rasa sesal karena pernah menolongnya. Namun lama kelamaan saya berfikir bahwa itu tidak baik buat diri saya sendiri. Mengingat kebaikan yang pernah saya lakukan semakin menunjukan bahwa saya tidak ikhlas dan berharap balas budi.

Menolong orang lain dibutuhkan keikhlasan, dengan tidak berharap imbalan apapun. Jika suatu saat dia yang pernah saya tolong melukai hati, maka saya harus tetap ikhlas, dan tidak mengingat kebaikan yang pernah saya lakukan. Karena menolong orang lain adalah kewajiban bukan untuk di ingat, ataupun meminta balasan.

Akan lebih baik bagi saya jika memfokuskan diri untuk lebih mengingat orang yang pernah menolong saya, dan memperkuat hati agar lebih siap dan ikhlas jika ada orang yang membutuhkan pertolongan, siapapun dia. Apakah dia pernah menolong saya ataupun pernah menanam duri di hati saya. Kodrat manusia adalah untuk melakukan tindakan yang mulia, bukan untuk mengingat perih yang pernah dirasakan dan menyimpan dendam.

Semoga Tuhan menjadikan saya lebih Ikhlas dari sebelumnya. Amien.

Rizal bagus kurniawan
@rizalbkur

Rabu, 02 Maret 2016

Boleh Pengen tapi ngga boleh iri!

Ketika ada orang lain yang lebih dari kita atau memiliki sesuatu yang tidak kita miliki, maka jangan sekali-kali muncul rasa iri hati. Kita boleh ingin seperti mereka tapi tidak boleh iri dengan apa yang mereka dapatkan/miliki.

Sesungguhnya Tuhan maha adil, hanya kita saja yang belum bisa melihat dan merasakan keadilan-Nya. Berhenti mengeluh dan selalu bersyukur atas apa yang sudah diberikan Tuhan kepada kita.

Jadikan apa yang sudah orang lain raih sebagai motivasi kita untuk tetap berusaha meraih apa yang kita inginkan. Ingat!, boleh pengen tapi ngga boleh iri!.

Rizal Bagus Kurniawan
@rizalbkur

Minggu, 14 Februari 2016

Lupa

Setiap manusia pasti pernah lupa, sama halnya dengan saya. Saya lupa bahwa dulu saya pernah diberi ujian dan kesulitan, dan saya juga lupa bahwa kemudian saya diberi kemudahan dan jalan keluar dari kesulitan tersebut.

Terkadang setiap masalah yang terus berdatangan membuat saya lupa bahwa pasti ada jalan keluar dari masalah tersebut, sehingga kadang timbul rasa putus asa dan ingin lari dari masalah.

Seandainya saya selalu ingat bahwa Tuhan pasti memberi kemudahan sesudah kesulitan, memberi jalan keluar ditengah kebuntuan dan memberi cahaya didalam kegelapan maka saya tidak akan mudah berputus asa dan tidak pernah menyerah.

Tangerang 14 februari 2016 – 21:08

Rizal bagus kurniawan
@rizalbkur



Rabu, 18 Februari 2015

Third Chance “Kesempatan Ketiga”

“Setiap kejadian pasti ada hikmahnya”, sebuah kalimat yang sudah sangat familiar di telinga saya, apakah memang benar setiap kejadian ada hikmahnya?, Terkadang saya berfikir pada setiap kejadian sedih dan susah yang saya alami,  bahwa pasti ada hikmah dibalik semua ini. Tapi di saat saya senang saya tidak pernah berfikir hikmah apa yang saya dapat dari kesenangan ini. Apa mungkin karena saya sedang senang, jadi hikmah itu sudah tidak ada artinya lagi buat saya?.  “Setiap kejadian pasti ada hikmahnya” hanya akan menjadi sebuah klise dipikiran saya sebagai pengurang rasa kecewa atas kesedihan saya, walaupun sebenarnya saya sendiri tidak pernah tahu apa hikmah dibalik semua ini.

Saya adalah orang selalu belajar dari pengalaman, walaupun kadang-kadang saya jadi seekor keledai yang terjebak pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. Banyak pengalaman hidup yang saya alami yang sedikit demi sedikit membuat saya mengerti tentang hikmah dari setiap kejadian. Saya menyesal atas kesalahan yang saya lakukan, dan mencoba belajar untuk tidak mengulanginya lagi. Penyesalan adalah kesadaran atas kesalahan yang dilakukan, dan menurut saya itulah yang dimaksud hikmah, dimana kita tahu letak kesalahan kita.

Entah sudah berapa penyesalan yang saya alami, beberapa diantaranya memang membuat saya sadar untuk tidak mengulanginya lagi, tapi tidak sedikit kesalahan yang saya ulangi lagi. Memang susah bagi saya untuk tidak mengulangi kesalahan, ketika kesenangan sesaat mengalahkan pengalaman.


Tuhan memang maha baik dan penyayang, Dia masih memberikan saya “kesempatan ketiga” untuk memperbaiki kesalahan, sementara saya sendiri kadang sulit untuk memaafkan seseorang pada kesalahannya yang pertama, apalagi memberikan orang lain kesempatan yang ketiga?. Menurut saya tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. 

Rizal Bagus Kurniawan
@rizalbkur


Jumat, 08 Februari 2013

Mengelola Kekecewaan

Kekecewaan itu adalah hal yang wajar yang bisa muncul kapanpun, jika kita belum cukup sabar dan ikhlas untuk meredamnya maka kita harus mengelola kekecewaan itu dengan baik. Jangan sampai kekecewaan ini menimbulkan kebencian yang berlebihan, emosi, atau dendam. Kekecewaan adalah bentuk perasaan yang bersifat sementara, jadi akan hilang dengan sendirinya. Maka penting bagi kita untuk tidak terlalu memikirkan kekecewaan itu, carilah aktifitas yang dapat mengalihkan pikiran kita kearah yang lebih positif, dan jangan lupa untuk berdoa dan mengingat Tuhan, karena dari situ kita akan menjadi lebih ikhlas, dan lebih tenang dalam menyikapi kekecewaan tersebut.

Kekecewaan tidak serta merta hanya menyangkut rasa kecewa terhadap orang lain saja, namun juga terhadap diri sendiri. Hal ini terjadi karena kurangnya rasa syukur terhadap Tuhan, dan kecenderungan untuk lebih melihat kelemahan diri sendiri. kita harus lebih fokus pada kelebihan yang kita miliki dan manfaat apa yang bisa kita berikan kepada sesama. Tuhan maha adil, yang tidak menciptakan kelemahan tanpa kelebihan, yang tidak menciptakan musibah tanpa hikmah, yang tidak menciptakan masalah tanpa jalan keluar, yang tidak menciptakan kesalahan tanpa pembelajaran. Maka dari itu bersyukurlah, buang jauh-jauh pikiran negatif dengan terus berfikir positif, dan berupaya untuk membahagiakan dan bermanfaat bagi sesama dengan kelebihan yang kita miliki.

Jika kita mau berfikir lebih luas, sesungguhnya tidak hanya kita saja yang kecewa, namun orang lain pun bisa juga kecewa terhadap kita. Inilah pentingnya introspeksi, lihat diri kita lebih dalam dan pelajari perbuatan atau perkataan apa saja dari kita yang bisa membuat kecewa orang lain, lalu berjanjilah untuk memperbaikinya. Fokus pada perbaikan diri agar tidak mengecewakan orang lain itu lebih baik dari pada harus memendam kekecewaan yang mengganggu ketenangan batin kita dan menghambat kebahagiaan.

Rizal B Kurniawan
Semarang, 8 Februari 2013 

Selasa, 01 Januari 2013

KEINGINAN atau KEBUTUHAN

Keinginan dan kebutuhan adalah hal yang berbeda, karena apa yang menjadi keinginan belum tentu merupakan sebuah kebutuhan, sementara apa yang di butuhkan belum tentu sesuatu yang di inginkan. Kita sering kali menomor duakan kebutuhan di bawah keinginan, dan selalu terdorong untuk mewujudkan apa yang diinginkan, tapi jarang sekali memikirkan bagaimana mendapatkan sesuatu yang dibutuhkan.
Sebagai contoh : lebih memilih untuk membeli baju model terbaru, walaupun tidak makan satu hari. Ini merupakan salah satu contoh sederhana dimana keinginan menjadi penguasa hati diatas sebuah kebutuhan.  Baju yang diinginkan lebih di pilih dari pada makanan yang jelas di butuhkan oleh tubuh. Ketika kita menolak sesuatu yang dibutuhkan dan lebih memilih yang di inginkan maka akan tercipta kerugian. Dari  contoh diatas kerugian yang didapat adalah merasa lapar sepanjang hari, kemudian badan menjadi lemas, dan tidak menutup kemungkinan untuk jatuh sakit.
Keinginan hadir karena dorongan hawa nafsu, sementara kebutuhan adalah hal yang wajar dan sudah semestinya untuk di cukupi. Kita akan mendapat banyak kerugian ketika terlalu menuruti hawa nafsu dengan cara yang salah. Apa yang menjadi kebutuhan, pasti akan lebih bermanfaat dalam jangka waktu yang lama, sementara apa yang menjadi keinginan hanya bermanfaat sementara dan bisa menjadi sia-sia.
Bijak dalam menentukan mana keinginan dan mana kebutuhan dengan meredam hawa nafsu dan lebih mengedepankan akal pikiran dan hati dalam memilah mana yang harus di dahulukan untuk di wujudkan. Sabar jangan tergesa-gesa, ketenangan adalah kunci dalam berfikir secara jernih. Dengan pikiran yang jernih, kita akan mampu meredam hawa nafsu dan jangan biarkan hawa nafsu berperan penuh dalam perilaku.
Mari sabar & ikhlas dalam berserah diri kepada Tuhan, karena sesungguhnya Tuhan yang lebih mengetahui mana yang kita butuhkan, bukan memberi apa yang kita inginkan.
1 Januari 2013
19.54
Rizal B Kurniawan

Senin, 10 Desember 2012

Memaafkan Perasaan

Kalau kita mendengar kata “memaafkan”, yang terlintas di benak kita adalah ada pihak lain yang harus kita maafkan. Padahal, yang kita maafkan adalah diri kita sendiri ujar Erba Sentanu.

Mekanismenya adalah, kita menerima dan mengakui bahwa seseorang telah menyakiti kita, dan kemudian kita menerima dan kemudian kita menerima dan mengakui perasaan kita ketika disakiti orang tersebut. Itulah arti sesungguhnya dari memaafkan ujar Erbe Sentanu.
Memaafkan adalah kejujuran. Jujur untuk mengakui bahwa kita merasa marah, benci, atau dendam, dan kemudian kita memaafkan perasaan-perasaan tersebut. Jadi, sebenarnya kita berurusan dengan hati kita sendiri, bukan dengan orang lain. Maka, kita harus memaafkan perasaan kita sendiri yang telah merasakan marah, benci, atau kecewa setelah disakiti orang lain.

Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad SAW bersabda, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Jadi, yang seharusnya kita taklukkan adalah diri kita, perasaan kita sendiri, bukan orang lain.

Untuk menaklukkan alias memaafkan perasaan kita, maka yang harus dilakukan adalah menerima saja perasaan itu. Perasaan atau emosi adalah energi yang bergerak (e-motion : energy in motion). Energi bersifat mengalir, karena itu tidak bisa ditahan. Kalau ditahan, maka dia akan memupuk dan suatu saat akan memaksa keluar dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Karena itu, energi atau emosi ini harus diterima dengan sadar, ikhlas dan tanpa penolakan.
Hanya dengan menyadari dan mengizinkan emosi tersebut  hadir di dalam diri, energi ini akan menjadi netral dan kembali menjadi bagian dari diri kita. Rasa tak nyaman yang menyertainya pun akan lenyap.

Lebih dari itu, pertengkaran dan peperangan itu toh ujung-ujungnya mencari jalan untuk damai. Jadi,  kenapa tidak berdamai saja dari awal??… (RBS)

Sumber : http://quantumikhlas.com
http://quantumikhlas.com/?p=808#more-808